[SONGFIC] Excuse Me Miss
Author : adinary
Main Cast : Lee Jinki – Park Mila
Others : Lee Seorin – Lee Taemin – Kim Jonghyun – Kim Ki Bum – Choi Minho
Length : Songfic
Genre : Romantic
Rating : General
~~~
Excuse me miss – I’m going crazy, my head is filled with
Your smile white – you’re a dazzling angel
I sway because I can’t see ahead of me
I am losing myself, I can’t go on like this
You’re my sweet chocolate, my woman
I will risk my all this one time, I wonder
Your smile white – you’re a dazzling angel
I sway because I can’t see ahead of me
I am losing myself, I can’t go on like this
You’re my sweet chocolate, my woman
I will risk my all this one time, I wonder
Kerumunan orang-orang ini membuatnya rindu akan kampung halaman. Ia membetulkan letak kacamata hitamnya sambil menyeret santai kopernya yang besar menuju pintu keluar bandara. Sesekali ia melihat kesekeliling. Tersenyum saat ia memergoki beberapa tatapan wanita yang memandangnya takjub.
Setibanya di pintu keluar, ia menyerahkan kopernya pada seorang supir pribadi. Ia masuk kedalam mobil sedan mewah berwarna hitam itu. Mobil itupun mulai bergerak menembus kota Incheon menuju Seoul.
Pria itu membuka dompetnya dan mengeluarkan sebuah foto. Ia membuka kacamata hitamnya. Tertulis nama Lee Jinki dan Park Mila dibelakang foto tersebut.
Pri a bernama Jinki itu mengelus wajah wanita dalam foto itu. “I’m gonna see you soon.”
Jinki tersenyum sambil membayangkan wajah wanita itu. Wajahnya, senyumannya, keceriannya dan segalanya tentang wanita itu. Selama sekolah di luar negeri ia hampir gila karena merinduan wanita ini.
“First love is hard to forget…”
Kata-kata mantan kekasihnya saat di London itu benar-benar membuat Jinki kembali jatuh saat ia sedang berusaha melupakan Mila. Kata-kata itu juga yang membuat ia putus dengan kekasihnya dulu.
“Make her fall in love with you even if she treats you like her best friend or just her senior…”
Jinki mengeluarkan ponselnya tapi tak ada satu pun balasan pesan dari Mila. Dari semua aplikasi chatting diponselnya tak ada satupun yang Mila balas. Email pun sama saja.
Apa dia…
Pikiran itu kembali muncul dibenak Jinki.
Do you really not know my burning heart or are you pretending not to know?
Why do you keep smiling? I’m shaking and dizzy
Sometimes, I get scared – what if someone else confesses to you first?
So I will go to you and take a chance
Why do you keep smiling? I’m shaking and dizzy
Sometimes, I get scared – what if someone else confesses to you first?
So I will go to you and take a chance
Hanya ada waktu 2 minggu untuk Jinki beristirahat sebelum ia mulai menerima tanggung jawab menjadi CEO sebuah agensi artis milik ayahnya. Sekolah diluar negeri bukan main-main, sebagai anak sulung Jinki mempunyai sebuah tanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya. Membantu mengurus perusahaan ayahnya lebih penting daripada menjadi co-executive di perusahaan lain di UK.
*
Jinki dan adik perempuannya, Lee Seorin, pergi keluar untuk menikmati akhir pekan. Tapi Seorin tiba-tiba menarik lengan Jinki untuk berhenti berjalan. “Oppa, sebaiknya kita tidak lewat jalan itu. Aku sepertinya ingin membeli es krim disana.”
Jinki menoleh heran. “Bukankah tadi kau ingin elie s krim disitu?” Jinki menunjuk kearah sebuah toko es krim.
“Em.. tadi eng.. temanku bilang disana ada es krim rasa baru.. jadi.. jadi aku ingin membelinya, hehehe.”
Jinki menatap heran adiknya. Matanya menyipit. “Shireo! Kita ke toko es krim disitu saja. Kajja!”
“Eottohke…” Seorin menepuk keningnya sendiri sambil memandangi 2 orang yang baru saja memasuki toko es krim yang ia dan kakaknya tuju.
Seorin berjalan dibelakang Jinki sambil tetap menggandeng lengan kiri kakaknya.
Jinki tiba-tiba berhenti didepan pintu toko es krim tersebut. Ia melihat seseorang dibalik kaca itu. Park Mila dan… kekasihnya?
“Seorin-ah..”
“Ye..”
“Ayo kita pulang, kita pergi lagi lain kali.”
*
Jinki membanting tubuhnya sendiri keatas kasur. Setelah sekian lama tidak melihat cinta pertamanya itu, sekarang ia melihatnya dengan namja lain? Apa senyuman Mila tadi untuk namjanya? Ah! Tentu saja Jinki babo!
Tiba-tiba perasaan Jinki berubah tidak karuan. Ia merasa terlambat. Ia merasa tidak ada lagi kesempatan untuknya.
“Late is better than never!”
Jinki menatap langit-langit kamarnya. “Seorin benar. Lebih baik terlambat daripada tidak pernah sama sekali.”
Excuse me miss – I’ve been dreaming of a vanilla ice kiss with you, peace
How about it? Wanna take a walk together? Wanna be together?
Your shy and reddening cheeks make me get drunk
Your scent seeps through your soft hair
How about it? Wanna take a walk together? Wanna be together?
Your shy and reddening cheeks make me get drunk
Your scent seeps through your soft hair
TIN!
Bunyi klakson mobil milik Jinki membuat Mila menghampiri mobil sedan mewah yang terparkir tepat didepan kantornya.
Jinki pun keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Mila. Jinki tersenyum hangat. “Masuklah.”
“O..oppa?”
“Kau tidak lupa dengan wajahku, kan? Ayolah, cepat masuk. Mau sampai kapan aku membukakan pintu mobil ini untukmu.”
“Oh! Ne..Mianhae.”
*
Jinki tersenyum kecil. Walau tidak ada diantara mereka yang memulai pembicaraan, tapi ini menjadi pertemuan yang mendebarkan untuknya. Semua memori indah dengan Mila tiba-tiba muncul dipikirannya yang membuatnya terus tersenyum nyaris sepanjang perjalanan. Ia merasa seakan-akan ada yang meledak-ledak dalam dirinya. Saking senangnya ia merasa jantung dan hatinya akan melompat keluar saat ini juga.
*
Setibanya disebuah restoran, Jinki turun dari mobilnya dan ia melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria pada seorang wanita. Membukakan pintu mobil.
“Silakan tuan putri~”
Hal itu sukses membuat Mila tersipu malu hingga membuat pipinya merona. Melihat hal itu membuat Jinki semakin gemas.
*
“Selera restoranmu selalu kelas atas.” Ucap Mila saat ia baru saja duduk dikursinya.
“Tapi aku juga bisa merakyat sepertimu.”
“Yaaaa!! Maksudmu seleraku rendahan???”
“Hahaha, ani.. ani.. bukan begitu, aku hanya bercanda.”
“Kau sama sekali tidak berubah.”
“Kau juga tidak berubah, tetap cantik seperti dulu. Kau tahu? Selama di London aku selalu membayangkan makan malam berdua seperti ini denganmu. Aku rindu pergi ke taman bermain dengamu, aku rindu sikapmu yang galak, pokoknya aku merindukan Park Mila.”
Mila sedikit tercengang melihat Jinki begitu bersemangat mengatakan bahwa ia merindukan Mila. Kemudian Mila tertawa. “Ya! Kau bersemangat sekali hahaha.”
Jinki sedikit malu menyadari bahwa ia tidak dapat mengontrol dirinya sendiri. Ini semua karena wanita yang sedang duduk dihadapannya.
Jinki buru-buru membuka buku menu. “Kau mau pesan apa?”
“Aku boleh memesan makanan yang paling mahal, kan?”
Jinki terkekeh. “Biasanya juga kau memesan makanan yang lebih mahal dariku.”
*
Tidak ada percakapan selama mereka menunggu makanan mereka. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing dan yang Jinki lakukan hanyalah memandangi wajah Mila secara diam-diam.
Wajah itu benar-benar membuat rasa rindunya semakin menggila. Jinki memperhatikan setiap gerak-gerik Mila. Cara Mila menyematkan rambutnya ke belakang telinganya saja membuat Jinki merasa terbang entah kemana. Harum khas wanita dihadapannya ini masih sama seperti dulu. Yang berbeda hanyalah Mila tumbuh dewasa dan semakin cantik.
Jinki menghela napasnya. Ia merasa seperti seorang byuntae ajeossi yang memandangi wanita selekat ini. Ia terkekeh dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Apa kuliah di London membuatmu sering tertawa sendiri?”
Jinki terperanjat karena pertanyaan Mila. “Ah, tidak, aku hanya membayangkan sesuatu yang lucu,” Jinki tersenyum saat seorang pelayan dating membawakan makanan mereka. “Oh! Makanan kita datang.”
*
“Mila-ya, bagaimana rasanya menjadi composer lagu? Lain kali kau harus membuatkan lagu untukku.”
Mila mengangguk. “Ne, tapi bukan di agensi besar dan masih menjadi asisten, aku belum benar-benar menjadi composer.”
“Ooh..”
Mila menatap Jinki sekilas lalu akhirnya ia memulai pembicaraan lagi. “Lalu, bagaimana rasanya kuliah di Univ College London? Ku dengar itu salah 1 dari 10 Univ terbaik di dunia.”
Jinki mengangguk pelan. “Menyenangkan. Aku jadi merasa pintar bisa kuliah disitu, hahaha.”
“Dari dulu kau kan memang pintar, cerdas, jenius! Kau juga termasuk siswa paling tampan di sekolah. Pasti di London banyak wanita yang mendekatimu, iya kan?”
“Yaaa, begitulah. Tapi aku tidak pintar dibeberapa hal.”
“Salah satunya?”
Mengambil hati seorang Park Mila. Jinki tersenyum. “Tidak akan kuberitahu.”
Mila mencibir. “Aku tahu kau tidak bisa menggambar. Menggambar orang saja terlihat seperti monyet.”
“YA! Manusia dan monyet kan posturnya hampir sama!”
“Tapi kan wajahnya tidak!”
“Baiklah,” Jinki mencondongkan tubuhnya dan berbisik. “Aku selalu kalah berdebat denganmu.” Lalu Jinki dan Mila tertawa bersama.
Sungguh, ini yang Jinki rindukan selama ini.
As if they’re glass balls, your eyes are so clear
I see myself reflected in them and I am in love
Don’t say that it can’t be, you already know, you know
I’m not joking around so what I mean to say is…
I see myself reflected in them and I am in love
Don’t say that it can’t be, you already know, you know
I’m not joking around so what I mean to say is…
Mulai dari hari itu, setelah pulang kerja kadang-kadang Jinki menjemput Mila dikantornya. Jinki berkunjung ke rumah Mila dan bertemu dengan ibunya Mila yang sudah lama tak ia temui semenjak ia kuliah di London. Menghabiskan akhir pekan bersama dan melakukan hal yang biasa mereka lakukan dulu saat masih sekolah.
“Oppa, sepertinya hari ini hari yang special. Kau.. emm.. terlihat berbeda.”
Jinki yang sedari tadi menunduk pun menoleh kearah Mila yang berjalan tepat disampingnya. “Jinjja?”
Mila mengangguk. “Kau tidak seperti biasanya, hari ini kau terlihat lebih rapi. Seperti mau ke pesta pernikahan.”
Jinki terkekeh. “Pasti aku semakin tampan, iya kan?”
Mila menatap Jinki. “Ne, hehe. Hari ini kau terlihat lebih tampan dari biasanya.” Mila tiba-tiba menunduk dan memegang kedua pipinya sendiri.
Jinki sedikit meunduk untuk melihat wajah Mila. “Ya~ aku yang dipuji kenapa pipimu yang merona.”
“Aish! Jangan memandang wajahku seperti itu.”
Jinki tertawa geli. Ia mengelus rambut Mila lembut. “Aigoo~ Park Mila yang cantik sedang tersipu~”
Ini waktu yang tepat…
Why am I trembling so much? Why does it seem like my words are leaking out?
Why am I blankly staring at my feet and getting shy?
Why am I blankly staring at my feet and getting shy?
Akhirnya mereka sampai disebuah taman bermain anak-anak. Tempat dimana mereka pertama kali bertemu saat Mila masih duduk di bangku SD.
Mila duduk disebuah ayunan dan memandang kesekelilingnya. “Sudah berapa lama ya aku tidak mengunjungi taman ini?” ia bertanya pada dirinya sendiri.
Mila menoleh saat Jinki duduk diayunan kosong disebelahnya. “Jadi kau berpakaian rapi hanya untuk mengajakku ke tempat ini?” Mila terkekeh. “Oppa, kau terlihat berlebihan kali ini.”
Jinki hanya tersenyum. “Kau belum menjawab pertanyaanku tempo lalu.”
“Tentang?”
“Tentang kenapa kau putus dengan kekasihmu.”
Mila menunduk dan menghela napasnya. “Dia menikah dengan wanita lain.”
“Mwo? Mworago?”
“Menyakitkan bukan?” Mila menatap Jinki seolah bertanya padanya, tapi Jinki hanya diam dan hanya menatap lurus kearah mata Mila. Mila melanjutkan kata-katanya dengan mata yang memancarkan kesedihan. Ia menatap lurus kedepan seolah menggali luka hati yang telah ia kubur semenjak ia bertemu lagi dengan Jinki. “Kami sudah 2 tahun berpacaran. Dia berkata bahwa dia akan serius denganku, karena itulah aku berhenti menunggu seseorang. Tapi ternyata selama ini hatinya terbagi 2, ternyata hatinya bukan hanya untukku tapi juga untuk wanita lain dan akhirnya dia memilih wanita lain itu dan membuangku begitu saja.” Mila tertawa kecil. “Nasibku tidak bagus.”
“Hanya laki-laki bodoh yang membuang wanita sepertimu demi wanita lain.”
“Mungkin dia pikir aku terlalu galak untuk dijadikan seorang istri, hahaha.”
Jinki sama sekali tidak menanggapi candaan Mila.
Tidak.
Tidak.
Ia memikirkan sesuatu. “Lalu siapa orang yang sedang kau tunggu itu?”
Mila terlihat pura-pura berpikir. “Emm, seseorang nun jauh disana. Yah, setidaknya menurutku dia jauh.”
Seketika Jinki tidak bisa berpikir lurus. Ia tidak bisa berpikir jernih dan pendiriannya mulai goyang. Tekadnya mulai luntur.
Tidak, kau tidak boleh mundur untuk kesekian kalinya, Lee Jinki.. tidak boleh.
Jinki menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Lalu ia berdiri dan berjalan kehadapan Mila. “Berdirilah, aku punya sesuatu untukmu.”
Mila menengadah menatap Jinki yang menjulang tinggi dihadapannya. Ia pun berdiri. “Wae?”
Jinki berusaha mengontrol dirinya sendiri. Perasaannya benar-benar campur aduk. Ia tidak tahu ini akan berakhir manis atau tidak.
Jinki berjalan menjauhi Mila dan berhenti didekat sebuah pohon taman yang berukuran sedang.
Jinki menatap Mila dari jauh dan itu benar-benar membuat Mila tampak kebingungan. Ia melihat kanan kirinya tapi tidak ada sesuatu yang aneh selain taman bermain yang sepi cahaya. Benar, Mila baru menyadarinya kalau lampu-lampu taman ini tidak semuanya menyala, hanya lampu dekat ayunan tadi yang menyala.
“Oppa, apa yang-“
“Park Mila….”
Tiba-tiba lampu-lampu taman menyala bersamaan. Lampu-lampu yang berbeda dari biasanya. Terlihat lebih indah.
Lalu Mila melihat kearah pohon dibelakang Jinki.
“Saranghae Park Mila. Would you be mine? Now and forever”
Mila terkesiap membaca tulisan yag tersusun dari lampu-lampu kecil tersebut. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya dan mundur selangkah.
Jinki dapat melihat pantulan lampu-lampu dibelakangnya di kedua bola mata Mila. Ia terlalu gugup. Semua kata-kata yang telah ia persiapkan sejak lama tiba-tiba menguap begitu saja. Jinki hanya mengeluarkan sebuah kotak cincin kecil berwarna merah dari saku celananya dengan perlahan. Ia merasa tangannya berkeringat dan bergetar. Ada rasa takut yang juga menambah kegugupan Jinki hingga ia mendadak bisu.
With those sweet lips, you softly whisper in my ear
Perlahan Mila memberanikan dirinya untuk melangkah maju menghampiri Jinki yang menatapnya terus menerus. Mila berdiri tepat dihadapan Jinki dan menengadah menatap wajah Jinki lalu tersenyum manis. Perlahan Mila memegang kedua bahu Jinki dan berjinjit. Ia berbisik ditelinga Jinki…
“I was already waiting for today since the beginning, come to me and hold my hand…”
Mila kembali menatap wajah Jinki dan tersenyum lebih lebar. “I will…”
Jinki membulatkan matanya menatap Mila dengan tidak percaya. “Kau? Jadi, apakah aku-”
Mila mengangguk senang. “Kau tidak sadar? Kaulah orang yang kutunggu selama ini, Lee Jinki.”
Excuse me miss, tell me yes, I’m your prince, romantic dance
Now do you want to be together forever, want to be together?
My heart pounds with breathtaking happiness
You’re so dazzling, so sweet, sweet love – your scent falls deep into my heart
Now do you want to be together forever, want to be together?
My heart pounds with breathtaking happiness
You’re so dazzling, so sweet, sweet love – your scent falls deep into my heart
I used to not believe in destiny (but like a lie, like a movie)
We accidentally passed by each other (and you came deep into my heart)
We accidentally passed by each other (and you came deep into my heart)
Senyuman lebar terlukis diwajah Jinki. Ia langsung memeluk Mila dengan erat sambil tertawa bahagia.
Bahkan bukan hanya memeluk tapi juga mengangkat tubuh Mila dan mereka berputar bersama.
“Ya! Park Mila, kau tahu? Aku sangat bahagia! Aku bahagia. Aku mencintamuuuuuuu!!! Saranghaeeee~”
“Nadoooo~” Mila tertawa bahagia sambil melingkarkan kedua tangannya dileher Jinki agar tidak jatuh.
Jinki menurunkan Mila. Menatapnya dan memeluknya lagi dengan erat dan Mila pun membalasnya. Sampai terdengar suara orang-orang yang berbisik, mereka pun melepaskan pelukan mereka.
“Ya! Jangan dorong-dorong! Kau kasar sekali!”
“Ssssttt!!! Kalian jangan bertengkar disini!”
“Ya! Cepat merangkak!”
“Oppa! Kubilang jangan dorong-dorong!”
“Aish! Merangkaklah dengan tenang!”
“Kau jangan membokongiku dasar yeoja tidak tahu malu!”
“Kalau begitu jangan diam dibelakangku! Kau saja yang ganjen!”
“Kalian benar-benar cari mati denganku! Sssttt!!!!
“Jangan menjitak kami!!!!”
Mila terus memperhatikan semak-semak yang bergerak itu sedangkan Jinki hanya tertawa geli.
“Oppa, ada orang disemak-semak itu…”
Akhirnya Jinki tertawa keras. “Lee Seorin, kalian, keluar saja.”
Tiba-tiba 1 yeoja dan 4 namja keluar dari balik semak-semak sambil tertawa malu.
“Jinki oppa, mianhe hehehe. Oh! Kami akan pulang sekarang, tenang saja. Bayarannya kami tunggu dirumah! Annyeong!”
Mereka semua pergi dan Mila pun tertawa keras. “Mereka? Untuk apa disini?”
Jinki menggaruk kepalanya. “Yah, kalau bukan mereka siapa lagi yang akan menyalakan semua lampu-lampu ini.”
*
Mereka pun duduk dikursi taman ditemani dengan lampu-lampu yang Jinki buat. Mereka sendiri tidak percaya kalau mereka telah menyatakan perasaan mereka masing-masing.
“Mana tanganmu?” Pinta Jinki sambil menyodorkan tangannya.
Mila memberikan tangan kanannya. “Untuk apa?”
Jinki mengambil cincin dari dalam kotak kecil tadi dan memasangkannya dijari manis Mila. “Saking bahagianya aku sampai lupa untuk memberikan ini padamu.”
Mila tersenyum sambil menatap cincin yang terpasang dejari manisnya. “Gomawoyo~”
Jinki menatap Mila sambil tersenyum. “Ne.”
“Park Mila..”
“Ne?”
“Rasanya aku ingin menciummu…”
“Mwo-“
Chu~~~
So that I can’t erase you, so that I can’t live without you
The switch to my red heart is throwing up love
The switch to my red heart is throwing up love
When I see you, my heart acts strange
My cheeks turn red, my lips stick together
I can only imagine as I talk to myself
After I fell for you, even the air tastes sweet like candy
I want to give it to you secretly in front of your house
A surprise present to surprise you with
A necklace to hang on your slender neck
Key’s gonna open – will you open the window to your heart?
My cheeks turn red, my lips stick together
I can only imagine as I talk to myself
After I fell for you, even the air tastes sweet like candy
I want to give it to you secretly in front of your house
A surprise present to surprise you with
A necklace to hang on your slender neck
Key’s gonna open – will you open the window to your heart?
It’s not that the path to you is too hard
It’s not that I suddenly wanted to be by your side one day
Because of our far distance, there are so many paths in between us
I don’t know if you want to be with me yet
On all of these endless paths that I can’t go alone,
I want to call you mine and hold hands with you
As we kiss, I want to have a verbal rendezvous
It’s not that I suddenly wanted to be by your side one day
Because of our far distance, there are so many paths in between us
I don’t know if you want to be with me yet
On all of these endless paths that I can’t go alone,
I want to call you mine and hold hands with you
As we kiss, I want to have a verbal rendezvous
~THE END~
| Tweet |